Kamis, 25 Februari 2016

Syariah Islamiah (Al-Quran dan Sejarah)



Pengertian Al-Quran Menurut Bahasa Dan Istilah Secara Umum

Pengertian Al-Quran Menurut Bahasa Dan Istilah
Al-Quran adalah kitab suci bagi umat islam. Selain kitab seci, al-Quran juga merupakan sumber hukum utama dalam ajaran agama islam. Al –Quran berisi tentang wahyu-wahyu allah swt yang diturunkan pedada nabi Muhammad saw lewat perantaraan malaikat jibril.
Al-Quran memiliki kedudukan yang sangat tinggi bagi penganut agama islam, sehingga umat islam akan sangat marah apabila ada orang atau pihak yang mencoba melecehkan alQuran. Lalu, bagaimana pengertian al-Quran itu sendiri…? Disini, akan saya bahas pengertian al-Quran menurut bahasa dan sitilah. Dengan adanya kedua pengertian tersebut (bahasa dan istilah) diharapkan memberikan informasi yang baik bagi anda sebagai pembaca.
Al-Quran
Secara bahasa (etimologi), al-Quran berasal dari bahasa arab yaitu qur’an, dimana kata “qur’an” sendiri merupakan akar kata dari قرأ – يقرأ – قرآنا . Kata قرآنا secara bahasa berarti bacaan karena seluruh isi dalam al-Quran adalah ayat-ayat firman allah dalam bentuk bacaan yang berbahasa arab. Sedangkan pengertian al-Quran menurut istilah (terminologi) ialah firman Allah yang berbentuk mukjizat, diturunkan kepada nabi terakhir, melalui malaikat jibril yang tertulis dalam di dalam mushahif, yang diriwayatkan kepada kita dengan mutawatir, merupakan ibadah bila membacanya, dimulai dengan surat al-Fatihah dan diakhiri dengan surat an-Naas.[1]
Definisi atau pengertian al-Quran menurut bahasa dan istilah di atas merupakan kata sepakat antara ulama dan para ahli ushul. Al-Quran diturunkan oleh allah swt sebagai tata aturan bagi kehidupan semua bangsa, petunjuk yang benar untuk semua makhluk, tanda bukti atas kebenaran rasulullah Muhammad saw, dalil yang qot’ie atas kenabian dan risalahnya. Dan sebagai hujjah yang tetap tegak hingga hari kemudian.
Sebenarnya pengertian al-Quran itu sendiri sangat luas, ia tidak hanya terpaku pada satu pengertian, masih banyak pengertian lain tentang al-Quran menurut para ahli, namun yang paling mendekati dan sesuai dengan para ahli adalah pengertian seperti yang sudah disebutkan tadi. Demikian sekilas tentang pengertian al-Quran menurut bahasa dan istilah, semoga memberikan manfaat bagi pembaca sekalian.
A. Pengertian Al-Qur’an
           Allah menjelaskan,
(18) فَإِذَا قَرَأْنَاهُ فَاتَّبِعْ قُرْآنَهُ (17) إِنَّ عَلَيْنَا جَمْعَهُ وَقُرْآنَهُ

"Sesungguhnya atas tanggungan Kami-lah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu." (Al-Qiyamah: 17-18)

Sejarah Turunnya Al-Qur’an
Al-Qur’an
Al-Qur’an adalah kitab suci umat Islam. Bagi Muslim, Al-Quran merupakan firman Allah yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW melalui malaikat Jibril dengan lafal dan maknanya. Al-Qur’an merupakan mukjizat Nabi Muhammad SAW yang sangat berharga bagi umat Islam hingga saat ini. Di dalamnya terkandung petunjuk dan pedoman bagi umat manusia dalam mencapai kebahagiaan hidup baik di dunia maupun akhirat.
Bagian-bagian Al-Qur’an
Al-Qur’an mempunyai 114 surat, dengan surat terpanjang terdiri atas 286 ayat, yaitu Al Baqarah, dan terpendek terdiri dari 3 ayat, yaitu Al-‘Ashr, Al-Kautsar, dan An-Nashr.
Sebagian ulama menyatakan jumlah ayat di Al-Qur’an adalah 6.236, sebagian lagi menyatakan 6.666. Perbedaan jumlah ayat ini disebabkan karena perbedaan pandangan tentang kalimat Basmalah pada setiap awal surat (kecuali At-Taubah), kemudian tentang kata-kata pembuka surat yang terdiri dari susunan huruf-huruf seperti Yaa Siin, Alif Lam Miim, Ha Mim dll. Ada yang memasukkannya sebagai ayat, ada yang tidak mengikutsertakannya sebagai ayat.
Untuk memudahkan pembacaan dan penghafalan, para ulama membagi Al-Qur’an dalam 30 juz yang sama panjang, dan dalam 60 hizb (biasanya ditulis di bagian pinggir Al-Qur’an).
Masing-masing hizb dibagi lagi menjadi empat dengan tanda-tanda ar-rub’ (seperempat), an-nisf (seperdua), dan as-salasah (tiga perempat).
Selanjutnya Al-Qur’an dibagi pula dalam 554 ruku’, yaitu bagian yang terdiri atas beberapa ayat. Setiap satu ruku’ ditandai dengan huruf ‘ain di sebelah pinggirnya. Surat yang panjang berisi beberapa ruku’, sedang surat yang pendek hanya berisi satu ruku’.
Nisf Al-Qur’an (tanda pertengahan Al-Qur’an), terdapat pada surat Al-Kahfi ayat 19 pada lafal walyatalattaf yang artinya: “hendaklah ia berlaku lemah lembut”.
Sejarah Turunnya Al-Qur’an
Al-Quran diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW melalui berbagai cara, antara lain:
1. Malaikat Jibril memasukkan wahyu itu ke dalam hati Nabi Muhammad SAW tanpa memperlihatkan wujud aslinya. Nabi SAW tiba-tiba saja merasakan wahyu itu telah berada di dalam hatinya.
2. Malaikat Jibril menampakkan dirinya sebagai manusia laki-laki dan mengucapkan kata-kata di hadapan Nabi SAW.
3. Wahyu turun kepada Nabi SAW seperti bunyi gemerincing lonceng.
Menurut Nabi SAW, cara inilah yang paling berat dirasakan, sampai-sampai Nabi SAW mencucurkan keringat meskipun wahyu itu turun di musim dingin yang sangat dingin.
4. Malaikat Jibril turun membawa wahyu dengan menampakkan wujudnya yang asli.
Setiap kali mendapat wahyu, Nabi SAW lalu menghafalkannya. Beliau dapat mengulangi wahyu yang diterima tepat seperti apa yang telah disampaikan Jibril kepadanya. Hafalan Nabi SAW ini selalu dikontrol oleh Malaikat Jibril.
Al-Qur’an diturunkan dalam 2 periode, yang pertama Periode Mekah, yaitu saat Nabi SAW bermukim di Mekah (610-622 M) sampai Nabi SAW melakukan hijrah. Ayat-ayat yang diturunkan pada masa itu disebut ayat-ayat Makkiyah, yang berjumlah 4.726 ayat, meliputi 89 surat.
Kedua adalah Periode Madinah, yaitu masa setelah Nabi SAW hijrah ke Madinah (622-632 M). Ayat-ayat yang turun dalam periode ini dinamakan ayat-ayat Madaniyyah, meliputi 1.510 ayat dan mencakup 25 surat.
Ciri-ciri Ayat-ayat Makkiyah dan Madaniyyah
Makkiyah Madaniyyah
Ayat-ayatnya pendek-pendek, Ayat-ayatnya panjang-panjang,
Diawali dengan yaa ayyuhan-nâs (wahai manusia), Diawali dengan yaa ayyuhal-ladzîna âmanû (wahai orang-orang yang beriman).
Kebanyakan mengandung masalah tauhid, iman kepada Allah SWT, hal ihwal surga dan neraka, dan masalah-masalah yang menyangkut kehidupan akhirat (ukhrawi), Kebanyakan tentang hukum-hukum agama (syariat), orang-orang yang berhijrah (Muhajirin) dan kaum penolong (Anshar), kaum munafik, serta ahli kitab.
Ayat Al-Qur’an yang pertama diterima Nabi Muhammad SAW adalah 5 ayat pertama surat Al-‘Alaq, ketika ia sedang berkhalwat di Gua Hira, sebuah gua yang terletak di pegunungan sekitar kota Mekah, pada tanggal 17 Ramadhan (6 Agustus 610). Kala itu usia Nabi SAW 40 tahun.
Kodifikasi Al-Qur’an
Kodifikasi atau pengumpulan Al-Qur’an sudah dimulai sejak zaman Rasulullah SAW, bahkan sejak Al-Qur’an diturunkan. Setiap kali menerima wahyu, Nabi SAW membacakannya di hadapan para sahabat karena ia memang diperintahkan untuk mengajarkan Al-Qur’an kepada mereka.
Disamping menyuruh mereka untuk menghafalkan ayat-ayat yang diajarkannya, Nabi SAW juga memerintahkan para sahabat untuk menuliskannya di atas pelepah-pelepah kurma, lempengan-lempengan batu, dan kepingan-kepingan tulang.
Setelah ayat-ayat yang diturunkan cukup satu surat, Nabi SAW memberi nama surat tsb untuk membedakannya dari yang lain. Nabi SAW juga memberi petunjuk tentang penempatan surat di dalam Al-Qur’an. Penyusunan ayat-ayat dan penempatannya di dalam susunan Al-Qur’an juga dilakukan berdasarkan petunjuk Nabi SAW. Cara pengumpulan Al-Qur’an yang dilakukan di masa Nabi SAW tsb berlangsung sampai Al-Qur’an sempurna diturunkan dalam masa kurang lebih 22 tahun 2 bulan 22 hari.
Untuk menjaga kemurnian Al-Qur’an, setiap tahun Jibril datang kepada Nabi SAW untuk memeriksa bacaannya. Malaikat Jibril mengontrol bacaan Nabi SAW dengan cara menyuruhnya mengulangi bacaan ayat-ayat yang telah diwahyukan. Kemudian Nabi SAW sendiri juga melakukan hal yang sama dengan mengontrol bacaan sahabat-sahabatnya. Dengan demikian terpeliharalah Al-Qur’an dari kesalahan dan kekeliruan.
Para Hafidz dan Juru Tulis Al-Qur’an
Pada masa Rasulullah SAW sudah banyak sahabat yang menjadi hafidz (penghafal Al-Qur’an), baik hafal sebagian saja atau seluruhnya. Di antara yang menghafal seluruh isinya adalah Abu Bakar as-Siddiq, Umar bin Khattab, Usman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Talhah, Sa’ad, Huzaifah, Abu Hurairah, Abdullah bin Mas’ud, Abdullah bin Umar bin Khatab, Abdullah bin Abbas, Amr bin As, Mu’awiyah bin Abu Sofyan, Abdullah bin Zubair, Aisyah binti Abu Bakar, Hafsah binti Umar, Ummu Salamah, Ubay bin Ka’b, Mu’az bin Jabal, Zaid bin Tsabit, Abu Darba, dan Anas bin Malik.
Adapun sahabat-sahabat yang menjadi juru tulis wahyu antara lain adalah Abu Bakar as-Siddiq, Umar bin Khattab, Usman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Amir bin Fuhairah, Zaid bin Tsabit, Ubay bin Ka’b, Mu’awiyah bin Abu Sofyan, Zubair bin Awwam, Khalid bin Walid, dan Amr bin As.
Tulisan ayat-ayat Al-Qur’an yang ditulis oleh mereka disimpan di rumah Rasulullah, mereka juga menulis untuk disimpan sendiri. Saat itu tulisan-tulisan tsb belum terkumpul dalam satu mushaf seperti yang dijumpai sekarang. Pengumpulan Al-Qur’an menjadi satu mushaf baru dilakukan pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab, setelah Rasulullah SAW wafat.
Kenapa Al-Qur’an Tidak Dibukukan Dalam Satu Mushhaf (Pada Masa Nabi)

Pengumpulan Al-Qur’an yang tidak dilakukan secara sekaligus, melainkan melalui beberapa masa, dimana kemudian menjadi suatu mushhaf yang utuh.
Di sini kami bertanya: “Kenapa Al-Qur’an pada masa Nabi SAW tidak dikumpulkan dan disusun dalam bentuk satu mushhaf?. Jawabnya adalah:
Pertama: Al-Qur’an diturunkan tidak sekaligus, tetapi berangsur-angsur dan terpisah-pisah. Tidaklah mungkin untuk membukukannya sebelum secara keseluruhannya selesai.
Kedua: Sebagian ayat ada yang dimansukh. Bila turun ayat yang menyatakan nasakh, maka bagaimana mungkin bisa dibukukan datam satu buku.
Ketiga: Susunan ayat dan surat tidaklah berdasarkan urutan turunnya. Sebagian ayat ada yang turunnya pada saat terakhir wahyu tetapi urutannya ditempatkan pada awal surat. Yang demikian tentunya menghendaki perubahan susunan tulisan.
Keempat: Masa turunnya wahyu terakhir dengan wafatnya Rasululah SAW adalah sangat pendek/dekat. Sebagaimana pembahasan terdahulu bahwa ayat Al-Qur’an yang terakhir adalah:
Firman Allah SWT:
Kemudian Rasulullah SAW berpulang ke rahmatullah setelah sembilan hari dari turunnya ayat tersebut. Dengan demikian masanya sangat relatip singkat, yang tidak memungkinkan untuk menyusun atau membukukannya sebelum sempurna turunnya wahyu.
Kelima: Tidak ada motifasi yang mendorong untuk mengumpulkan Al-Qur’an menjadi satu mushhaf sebagaimana yang timbul pada masa Abu Bakar. Orang-orang Islam ada dalam keadaan baik, ahli baca qur’an begitu banyak, fitnah-fitnah dapat diatasi. Berbeda pada masa Abu Bakar dimana gejala-gejala telah ada; banyaknya yang gugur, sehingga khawatir kalau Al-Qur’an akan lenyap.
Kesimpulan: Kalau Al-Qur’an sudah dibukukan dalam satu mushhaf, sedangkan situasi sebagaimana yang tersebut di atas, niscaya Al-Qur’an akan mengalami perubahan dan pergantian selaras dengan terjadinya naskh (ralat) atau munculnya sebab disamping perlengkapan menulis tidak mudah didapat.
Kondisi tidak akan membantu untuk melepaskan mushhaf yang lebih dahulu dan harus berpegang pada mushhaf yang baru karena tidak mungkin setiap bulan ada satu mushhaf yang mencakup tiap ayat Al-Qur’an yang diturunkan. Namun setelah masalahnya stabil yaitu dengan berakhirnya penurunan, wafatnya Rasul, tidak lagi diralat, dan diketahuinya susunan, maka mungkinlah dibukukan menjadi satu mushhaf. Dan inilah yang dilakukan oleh Abu Bakar r.a. khalifah yang bijaksana, semoga Allah membalas jasanya atas perbuatan beliau dalam mengumpulkan Al-Qur’an beserta orang-orang Islam yang mengikuti jejaknya dengan balasan yang berlipat anda.
Beberapa Pertanyaan Sekitar Pengumpulan Al-Qur’an
Permasalahan yang mungkin sekali dihadapi dan diapungkan oleh kita
Ada beberapa pertanyaan yang perlu dijawab secara terperinci. Secara ringkas kami simpulkan sebagai berikut:
Pertama: Mengapa Abu Bakar ragu-ragu dalam masalah pengumpulan Al-Qur’an padahal masalahnya sangat baik lagi pula diwajibkan oleh Islam?
Jawabnya adalah: Abu Bakar khawatir kalau-kalau orang mempermudah dalam usaha menghayati dan menghafal Al-Qur’an, cukup dengan hafalan yang tidak mantap dan khawatir kalau-kalau mereka hanya berpegang dengan apa yang ada pada mushhaf yang akhirnya jiwa mereka lemah untuk menghafal Al-Qur’an. Minat untuk menghafal dan menghayati Al-Qur’an akan berkurang karena telah ada tulisan dan terdapat dalam mushhaf-mushhaf yang dicetak untuk standar membacanya, sedangkan sebelum ada mushhaf-mushhaf mereka begitu mencurahkan kesungguhannya untuk menghafal Al-Qur’an.
Dari segi yang lain bahwasanya Abu Bakar Siddiq adalah benar-benar orang yang bertitik-tolak dari batasan-batasan syari’at, selalu berpegang menurut jejak-jejak Rasulullah SW, dimana ia khawatir kalau-kalau idenya itu termasuk bid’ah yang tidak dikehendaki oleh Rasul Karena itulah maka Abu Bakar mengatakan kepada Umar: “Mengapa saya harus mengerjakan sesuatu yang tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah SAW? Barangkali ia takut terseret oleh ide-ide dan gagasan yang membawanya untuk menyalahi sunnah Rasulullah SAW serta membawa kepada bid’ah.
Tetapi tatkala ia menganggap bahwa hal tersebut adalah sangat penting dan pendapat tersebut pada hakikatnya adalah merupakan suatu sarana yang amat penting demi kelestarian kitab Al-Qur’an dan demi terpeliharanya dari kemusnahan dan perubahan, lagi pula ia meyakini bahwa hal tersebut tidaklah termasuk masalah yang menyalahi ketentuan dan bid’ah yang sengaja dibikin-bikin, maka ia bertekad baik untuk mengumpulkan Al-Qur’an. Akhirnya ia bisa memuaskan Zaid mengenai masalah ini sehingga Allah melapangkan dadanya dan Zaid tampil untuk melaksanakan usaha yang amat penting ini. wallahu alam.
Kedua: Kenapa Abu Bakar dalam hal ini memilih Zaid bin Tsabit dari shahabat lainnya?.
Jawabnya adalah: Zaid adalah orang yang betul-betul memiliki pembawaan/kemampuan yang tidak dimiliki oleh shahabat lainnya dalam hal mengumpulkan Al-Qur’an, ia adalah orang yang hafal Al-Qur’an, ia seorang sekretaris wahyu bagi Rasulullah SAW, ia menyamakan sajian yang terakhir dari Al-Qur’an yaitu dikala penutupan masa hayat Rasulullah SAW.
Disamping itu ia dikenal sebagai orang yang wara’ (bersih dari noda), sangat besar tanggungjawabnya terhadap amanat, baik akhlaknya dan taat dalam agamanya. Lagi pula ia dikenal sebagai orang yang tangkas (IQ-nya tinggi). Demikianlah kesimpulan kata-kata Abu Bakar yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari tatkala ia memanggilnya dengan mengatakan: “Anda adalah seorang pemuda yang tangkas yang tidak kami ragukan. Anda adalah penulis wahyu Rasul”.
Dengan beberapa sifat dan keistimewaan di atas, Abu Bakar Shiddiq memilih dan menunjuknya sebagai pengumpul Al-Qur’an. Adapun alasan yang menyatakan bahwa Zaid bin Tsabit adalah seorang yang sangat teliti, dapat dilihat dari kata-katanya: “Demi Allah, andaikata saya ditugaskan untuk memindahkan sebuah bukit tidaklah lebih berat jika dibandingkan degan tugas yang dibebankan kepadaku ini”. (Al-Hadits).

Kisah Turunnya Al-Quran Pertama Kali

Turunnya Al-Quran pertama kali terkadang menjadi perdebatan di antara sesama muslim. Seperti yang kita ketahui bahwa turunnya Al-Quran pertama kali yang dikenal sebagai Nuzulul Quran terjadi pada 17 Ramadhan. Namun beberapa ayat mengatakan :

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ
Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang didalamnya diturunkan Al-Qur’an.” (Al-Baqarah 185)

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ

Sesungguhnya kami menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan.” (Al-Qadr 1)

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ

Sesungguhnya kami menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam yang diberkahi.” (Ad-Dukhon 3)

Ketiga ayat tersebut menjelaskan Al-Quran turun pada bulan Ramadhan tepatnya malam lailatul Qadar, malam kemuliaan. Dan dalam surat Ad-Dukhon yang dimaksud malam mubarok ialah malam Lailatul Qadar pada bulan Ramadhan sebagaimana yang dikatakan oleh kebanyakan ulama tafsir. Lailatul Qadar seperti yang kita tahu terjadi pada 10 hari akhir Ramadhan dan 17 Ramadhan tidak termasuk ke dalam 10 hari terakhir Ramadhan. Hal ini sering membuat banyak kaum muslim bingung.

Keduanya benar, Al-Quran diturunkan secara lengkap (keseluruhan) dari Lauh Mahfudz ke langit Dunia (Baitul-Izzah) Al-Quran pada malam Lailatul Qadar kemudian diturunkan secara berangsur-angsur kepada Nabi Muhammad SAW  pertama kali pada tanggal 17 Ramadhan di Gua Hira. Al-Quran diturunkan selama 23 tahun, 13 tahun di Mekkah dan 10 tahun di Madinah. Yang terakhir inilah yang sering kita peringati sebagai Nuzulul Quran.

وَقُرْآناً فَرَقْنَاهُ لِتَقْرَأَهُ عَلَى النَّاسِ عَلَى مُكْثٍ وَنَزَّلْنَاهُ تَنزِيلاً

Dan Al Quran itu telah kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan kami menurunkannya bagian demi bagian.” (QS. Al Isra :106)

Ayat pertama yang diterima Nabi Muhammad SAW adalah surat Al-Alaq di Gua Hira. Saat itu tanggal 10 Agustus 660 M, Nabi Muhammad SAW tepat berusia 40 tahun 6 bulan 12 hari. Orang Arab memang memiliki tradisi untuk mengasingkan diri demi mendekatkan diri kepada hal-hal gaib bagi yang memiliki kecerdasan iman.

Saat mengasingkan diri di Gua Hira, Malaikat Jibril mendatangi Nabi Muhammad SAW sehingga membuat Nabi Muhammad SAW ketakutan.  Malaikat Jibril menyodorkan untaian alfabet pada lempengan kristal dan berkata “Iqra (bacalah)”. Namun Nabi Muhammad SAW menjawab “Ma ana biqirain (saya tidak bisa membaca)”.  Jibril kembali mendesaknya:

Iqra” Nabi Muhammad SAW kian ketakutan, tetapi dia tetap menjawab: “Ma ana biqirain.” Jibril menatap Nabi Muhammad SAW dan seketika Nabi Muhammad SAW paham bahwa Malaikat Jibril bukan menyuruh membaca, namun mengikuti ucapannya. Dan diterimalah ayat Al-Quran pertama kali yang berupa surat Al-Alaq ayat 1-5 oleh Nabi Muhammad SAW. Nabi Muhammad langsung pulang ke rumah dengan menggigil karena masih takut dengan peristiwa yang dialaminya di Gua Hira.

Dengan diterimanya ayat Al-Quran tersebut, maka Muhammad resmi diangkat menjadi Nabi. Sampai akhirnya Al-Quran terus turun secara berangsur-angsur. Al-Quran diturunkan dalam 2 periode:

Periode Mekkah

Turunnya Al Qur’an pada periode pertama ini terjadi ketika Nabi Muhammad SAW bermukim di Mekkah (610 – 622 M) sampai Nabi Muhammad SAW. melakukan hijrah. Ayat-ayat yang diturunkan pada masa itu, kemudian disebut dengan ayat-ayat Makiyah, yang berjumlah 4.726 ayat dan terdiri atas 89 surat. Ciri-ciri surat Makiyah :

• Ayat-ayatnya pendek.
• Diawali dengan yâ ayyuhan-nâs (wahai manusia).
• Kebanyakan mengandung masalah tauhid, iman kepada Allah Swt., masalah surga dan neraka, dan masalah-masalah yang menyangkut kehidupan akhirat (ukhrawi).

Periode Madinah

Periode yang terjadi pada masa setelah Nabi Muhammad SAW hijrah ke Madinah (622 – 632 M). Ayat-ayat yang turun dalam periode ini kemudian dinamakan ayat-ayat Madaniyah, meliputi 1.510 ayat dan mencakup 25 surat. Ciri-ciri surat Madaniyah :

• Ayat-ayatnya panjang.
• Diawali dengan yâ ayyuhalladzîna âmanû (wahai orang-orang yang beriman).
• Kebanyakan tentang hukum-hukum agama (syariat), orang-orang yang berhijrah (muhajirin) dan kaum penolong (anshar), kaum munafik, serta ahli kitab.

Dengan diturunkannya Al-Quran, maka memiliki makna :

1.  Tanda diangkatnya Muhammad SAW menjadi nabi untuk menyampaikan firman Allah.
2.  Al-Quran sebagai pedoman bagi seluruh umat manusia yang beriman untuk dihapal, dipahami dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Akan percuma Al-Quran bila hanya sampai di bibir saja tanpa ada pengamalan dalam kehidupan sehari-hari.

1. Tahap pertama ( At-Tanazzulul Awwalu ), Al-Qur’an diturunkan atau ditempatkan di Lauh Mahfudh, yakni suatu tempat di mana manusia tidak bisa mengetahuinya secara pasti. Hal ini sebagaimana diisyaratkan dalam QS Al-Buruj : 21-22.
Artinya : Bahkan yang didustakan mereka itu ialah Al Qur’an yang mulia, yang (tersimpan) dalam Lauh Mahfuzh.
Penjelasan mengenai sejak kapan Al-Qur’an ditempatkan di Lauh Mahfudh, dan bagaimana caranya adalah merupakan hal-hal gaib yang menjadi bagian keimanan dan tidak ada yang mampu mengetahuinya selain dari Allah swt. Dalam konteks ini Al-Qur’an diturunkan secara sekaligus maupun secara keseluruhan. Hal ini di dasarkan pada dua argumentasi.

Pertama: Karena lahirnya nash pada ayat 21-22 surah al-Buruj tersebut tidak menunjukkan arti berangsur-angsur. Kedua: karena rahasia/hikmah diturunkannya Al-Qur’an secara berangsur-angsur tidak cocok untuk tanazul tahap pertama tersebut. Dengan demikian turunnnya Al-Qur’an pada tahap awal, yaitu di Lauh Fahfudz dapat dikatakan secara sekaligus dan tidak berangsur-angsur.

2. Tahap kedua (At-Tanazzulu Ats-Tsani), Al-Qur’an turun dari Lauh Mahfudh ke Baitul `Izzah di Sama’ al-Dunya (langit dunia), yakni setelah Al-Qur’an berada di Lauh Mahfudh, kitab Al-Qur’an itu turun ke Baitul `Izzah di langit dunia atau langit terdekat dengan bumi ini. Banyak isyarat maupun penjelasannya dari ayat-ayat Al-Qur’an maupun hadits Nabi SAW. antara lain sebagai berikut dalam Surat Ad-Dukhan ayat 1-6 :
Artinya: Ha-Mim. Demi Kitab (Al Qur’an) yang menjelaskan, sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah, (yaitu) urusan yang besar dari sisi Kami. Sesungguhnya Kami adalah Yang mengutus rasul-rasul, sebagai rahmat dari Tuhanmu. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui (QS Ad-Dukhan 1-6).
Hadis riwayat Hakim dari Sa`id Ibn Jubair dari Ibnu Abbas dari Nabi Muhammad saw bersabda: Al-Qur’an itu dipisahkan dari pembuatannya lalu diletakkan di Baitul Izzah dari langit dunia, kemudian mulailah Malaikat Jibril menurunkannya kepada Nabi Muhammad saw.

Hadis riwayat al-Nasa’i, Hakim dan Baihaki dari Ibnu Abbas ra. Beliau berkata: Al-Qur’an itu diturunkan secara sekaligus ke langit dunia pada malam Qadar, kemudian setelah itu diturunkan sedikit demi sedikit selama duapuluh tahun.

3. Tahap ketiga (At-Tanazzulu Ats-tsaalistu), Al-Qur’an turun dari Baitul-Izzah di langit dunia langsung kepada Nabi Muhammad SAW., yakni setelah wahyu Kitab Al-Qur’an itu pertama kalinya di tempatkan di Lauh Mahfudh, lalu keduanya diturunkan ke Baitul Izzah di langit dunia, kemudian pada tahap ketiga Al-Qur’an disampaikan langsung kepada Nabi Muhammad saw dengan melalui perantaraan Malaikat Jibril. Dalam hal ini antara lain tersebut dalam QS Asy-Syu`ara’ : 193-194, Al-Furqan :32 sebagai berikut:
Artinya : Ia (Al-Qur’an) itu dibawa turun oleh Ar-Ruh al-Amin (Jibril) ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan (Asy-Syu`ara’: 193-194).
Artinya : Berkatalah orang-orang kafir, mengapa Al-Qur’an itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja. Demikianlah supaya Kami perbuat hatimu dengannya dan Kami (menurunkan) dan membacakannya kelompok demi kelompok (Al-Furqan ayat 32).

Menurut As-Suyûthi berdasarkan tiga laporan dari Abdullâh bin ‘Abbâs, dalam riwayat al-Hakim, al-Bayhaqi dan an-Nasa’i, telah menyatakan, bahwa al-Qur’an telah diturunkan melalui dua tahap[2]:
  1. Dari Lawh al-Mahfûdl ke Bayt al-‘Izzah (langit dunia yang paling rendah) secara keseluruhan dan turun sekaligus, yang terjadi pada malam Qadar (Laylah al-Qadar).
  2. Dari Bayt al-‘Izzah ke dalam hati Rasulullah saw. Secara bertahap selama 23 tahun kenabian Muhammad saw. Adapun yang pertama kali diturunkan terjadi di bulan Ramadhan, melalui malaikat Jibril as

Proses Turunnya Al-Quran

Dalam proses pewahyuannya terdapat beberapa cara untuk menyampaikan wahyu yang dibawa Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad, diantaranya[3] :

Pertama: Turunnya wahyu kepada beliau seperti suara lonceng (kesamaan dalam kerasnya suara-ed), dan cara ini adalah cara yang paling berat bagi Rasulullahshallallahu 'alaihi wasallam. Sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari rahimahullah, dari ‘Aisyah radhiyallahu 'anha bahwasanya al-Harits bin Hisyamradhiyallahu 'anhu bertanya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, ia berkata: ”Wahai Rasulullah, bagaimana wahyu turun kepada anda?” Maka Rasulullahshallallahu 'alaihi wasallam menjawab:
”Terkadang wahyu itu datang kepadaku seperti suara lonceng, dan itu adalah yang paling berat bagiku. Kemudian ia terhenti sedangkan aku sudah memahami apa yang Jibril katakan.”
’Aisyah radhiyallahu 'anha berkata:
”Dan sungguh aku telah melihat wahyu itu turun kepada beliau (Nabi shallallahu 'alaihi wasallam) pada hari yang sangat dingin, lalu wahyu itu terhenti sementara keringat telah mengalir di dahi beliau.”
Kedua: Dan terkadang wahyu turun dalam bentuk seorang laki-laki yang menyampaikan Kalamullah kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, sebagaimana hadits yang lalu dalam shahih al-Bukhari. Nabi shallallahu 'alaihi wasallam telah ditanya tentang tata cara turun wahyu, maka beliau menjawab:
”Dan terkadang Malaikat menjelma kepadaku sebagai seorang laki-laki, lalu ia berbicara kepadaku dan kemudian aku memahami apa yang dia katakan.”
Karena sesungguhnya Malaikat telah menjelma menjadi sosok lelaki dalam bentuk yang beraneka macam, dan tidak ada yang terluput darinya apa yang dibawa oleh Malaikat pembawa wahyu tersebut. Sebagaimana dalam kisah datangnya Malaikat dalam rupa Dihyah al-Kalbi, atau seorang Arab badui dan dalam bentuk yang lainnya. Dan semuanya tercatat dalam kitab Shahih.

Ketiga: Dan terkadang wahyu turun dengan cara Allah berbicara langsung kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dalam keadaan terjaga (tidak tidur), sebagaimana dalam hadits Isra’ Mi’raj yang panjang, yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukahari, dan di dalamnya disebutkan:
”Ketika aku lewat, ada penyeru yang berkata:”Aku telah berlakukan kewajibanku dan telah aku ringankan atas hamba-hambaku.”
Hal yang paling penting dalam pembahasan ini yang wajib diyakini dan diimani adalah bahwa Jibril 'alaihissalam turun membawa al-Qur’an dengan lafazh al-Qur’an dari awal surat al-Fatihah sampai akhir surat an-Naas, dan bahwa lafazh-lafazh tersebut adalah Kalamullah (firman Allah), tidak ada campurtangan Jibril 'alaihissalam, dan juga tidak ada campurtangan Nabishallallahu 'alaihi wasallam dalam pembuatan dan penyusunannya, akan tetapi semuanya adalah dari sisi Allah Subhanahu wa Ta'ala. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:
” (inilah) suatu kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan rapi serta dijelaskan secara terperinci, yang diturunkan dari sisi (Allah) Yang Maha Bijaksana lagi Mahatahu.” (QS. Hud: 1)
Maka semua lafazh al-Qur’an baik yang tertulis maupun yang dibaca semuanya dari sisi Allah Subhanahu wa Ta'ala, dan peran Jibril 'alaihissalam tidak lain hanyalah sebagai pembawa wahyu saja kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Dan tidak pula peran Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam melainkan hanyalah memahami, menghafal dan menyampaikannya saja. Kemudian menjelaskan dan mengamalkannya. AllahSubhanahu wa Ta'ala berfirman:
” Dan sesungguhnya al-Qur'an ini benar-benar diturunkan oleh Rabb semesta alam, dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril), ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan.” (QS. Asy-Syu’araa’: 192-194)

Tahap-Tahap dan Proses Turunnya Al-Quran (Nuzulul Quran)


Tahapan Turunnya Al-Quran


1. Tahap pertama ( At-Tanazzulul Awwalu ), Al-Qur’an diturunkan atau ditempatkan di Lauh Mahfudh, yakni suatu tempat di mana manusia tidak bisa mengetahuinya secara pasti. Hal ini sebagaimana diisyaratkan dalam QS Al-Buruj : 21-22.
Artinya : Bahkan yang didustakan mereka itu ialah Al Qur’an yang mulia, yang (tersimpan) dalam Lauh Mahfuzh.
Penjelasan mengenai sejak kapan Al-Qur’an ditempatkan di Lauh Mahfudh, dan bagaimana caranya adalah merupakan hal-hal gaib yang menjadi bagian keimanan dan tidak ada yang mampu mengetahuinya selain dari Allah swt. Dalam konteks ini Al-Qur’an diturunkan secara sekaligus maupun secara keseluruhan. Hal ini di dasarkan pada dua argumentasi.

Pertama: Karena lahirnya nash pada ayat 21-22 surah al-Buruj tersebut tidak menunjukkan arti berangsur-angsur. Kedua: karena rahasia/hikmah diturunkannya Al-Qur’an secara berangsur-angsur tidak cocok untuk tanazul tahap pertama tersebut. Dengan demikian turunnnya Al-Qur’an pada tahap awal, yaitu di Lauh Fahfudz dapat dikatakan secara sekaligus dan tidak berangsur-angsur.

2. Tahap kedua (At-Tanazzulu Ats-Tsani), Al-Qur’an turun dari Lauh Mahfudh ke Baitul `Izzah di Sama’ al-Dunya (langit dunia), yakni setelah Al-Qur’an berada di Lauh Mahfudh, kitab Al-Qur’an itu turun ke Baitul `Izzah di langit dunia atau langit terdekat dengan bumi ini. Banyak isyarat maupun penjelasannya dari ayat-ayat Al-Qur’an maupun hadits Nabi SAW. antara lain sebagai berikut dalam Surat Ad-Dukhan ayat 1-6 :
Artinya: Ha-Mim. Demi Kitab (Al Qur’an) yang menjelaskan, sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah, (yaitu) urusan yang besar dari sisi Kami. Sesungguhnya Kami adalah Yang mengutus rasul-rasul, sebagai rahmat dari Tuhanmu. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui (QS Ad-Dukhan 1-6).
Hadis riwayat Hakim dari Sa`id Ibn Jubair dari Ibnu Abbas dari Nabi Muhammad saw bersabda: Al-Qur’an itu dipisahkan dari pembuatannya lalu diletakkan di Baitul Izzah dari langit dunia, kemudian mulailah Malaikat Jibril menurunkannya kepada Nabi Muhammad saw.

Hadis riwayat al-Nasa’i, Hakim dan Baihaki dari Ibnu Abbas ra. Beliau berkata: Al-Qur’an itu diturunkan secara sekaligus ke langit dunia pada malam Qadar, kemudian setelah itu diturunkan sedikit demi sedikit selama duapuluh tahun.

3. Tahap ketiga (At-Tanazzulu Ats-tsaalistu), Al-Qur’an turun dari Baitul-Izzah di langit dunia langsung kepada Nabi Muhammad SAW., yakni setelah wahyu Kitab Al-Qur’an itu pertama kalinya di tempatkan di Lauh Mahfudh, lalu keduanya diturunkan ke Baitul Izzah di langit dunia, kemudian pada tahap ketiga Al-Qur’an disampaikan langsung kepada Nabi Muhammad saw dengan melalui perantaraan Malaikat Jibril. Dalam hal ini antara lain tersebut dalam QS Asy-Syu`ara’ : 193-194, Al-Furqan :32 sebagai berikut:
Artinya : Ia (Al-Qur’an) itu dibawa turun oleh Ar-Ruh al-Amin (Jibril) ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan (Asy-Syu`ara’: 193-194).
Artinya : Berkatalah orang-orang kafir, mengapa Al-Qur’an itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja. Demikianlah supaya Kami perbuat hatimu dengannya dan Kami (menurunkan) dan membacakannya kelompok demi kelompok (Al-Furqan ayat 32).

Menurut As-Suyûthi berdasarkan tiga laporan dari Abdullâh bin ‘Abbâs, dalam riwayat al-Hakim, al-Bayhaqi dan an-Nasa’i, telah menyatakan, bahwa al-Qur’an telah diturunkan melalui dua tahap[2]:
  1. Dari Lawh al-Mahfûdl ke Bayt al-‘Izzah (langit dunia yang paling rendah) secara keseluruhan dan turun sekaligus, yang terjadi pada malam Qadar (Laylah al-Qadar).
  2. Dari Bayt al-‘Izzah ke dalam hati Rasulullah saw. Secara bertahap selama 23 tahun kenabian Muhammad saw. Adapun yang pertama kali diturunkan terjadi di bulan Ramadhan, melalui malaikat Jibril as

Proses Turunnya Al-Quran

Dalam proses pewahyuannya terdapat beberapa cara untuk menyampaikan wahyu yang dibawa Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad, diantaranya[3] :

Pertama: Turunnya wahyu kepada beliau seperti suara lonceng (kesamaan dalam kerasnya suara-ed), dan cara ini adalah cara yang paling berat bagi Rasulullahshallallahu 'alaihi wasallam. Sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari rahimahullah, dari ‘Aisyah radhiyallahu 'anha bahwasanya al-Harits bin Hisyamradhiyallahu 'anhu bertanya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, ia berkata: ”Wahai Rasulullah, bagaimana wahyu turun kepada anda?” Maka Rasulullahshallallahu 'alaihi wasallam menjawab:
”Terkadang wahyu itu datang kepadaku seperti suara lonceng, dan itu adalah yang paling berat bagiku. Kemudian ia terhenti sedangkan aku sudah memahami apa yang Jibril katakan.”
’Aisyah radhiyallahu 'anha berkata:
”Dan sungguh aku telah melihat wahyu itu turun kepada beliau (Nabi shallallahu 'alaihi wasallam) pada hari yang sangat dingin, lalu wahyu itu terhenti sementara keringat telah mengalir di dahi beliau.”
Kedua: Dan terkadang wahyu turun dalam bentuk seorang laki-laki yang menyampaikan Kalamullah kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, sebagaimana hadits yang lalu dalam shahih al-Bukhari. Nabi shallallahu 'alaihi wasallam telah ditanya tentang tata cara turun wahyu, maka beliau menjawab:
”Dan terkadang Malaikat menjelma kepadaku sebagai seorang laki-laki, lalu ia berbicara kepadaku dan kemudian aku memahami apa yang dia katakan.”
Karena sesungguhnya Malaikat telah menjelma menjadi sosok lelaki dalam bentuk yang beraneka macam, dan tidak ada yang terluput darinya apa yang dibawa oleh Malaikat pembawa wahyu tersebut. Sebagaimana dalam kisah datangnya Malaikat dalam rupa Dihyah al-Kalbi, atau seorang Arab badui dan dalam bentuk yang lainnya. Dan semuanya tercatat dalam kitab Shahih.

Ketiga: Dan terkadang wahyu turun dengan cara Allah berbicara langsung kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dalam keadaan terjaga (tidak tidur), sebagaimana dalam hadits Isra’ Mi’raj yang panjang, yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukahari, dan di dalamnya disebutkan:
”Ketika aku lewat, ada penyeru yang berkata:”Aku telah berlakukan kewajibanku dan telah aku ringankan atas hamba-hambaku.”
Hal yang paling penting dalam pembahasan ini yang wajib diyakini dan diimani adalah bahwa Jibril 'alaihissalam turun membawa al-Qur’an dengan lafazh al-Qur’an dari awal surat al-Fatihah sampai akhir surat an-Naas, dan bahwa lafazh-lafazh tersebut adalah Kalamullah (firman Allah), tidak ada campurtangan Jibril 'alaihissalam, dan juga tidak ada campurtangan Nabishallallahu 'alaihi wasallam dalam pembuatan dan penyusunannya, akan tetapi semuanya adalah dari sisi Allah Subhanahu wa Ta'ala. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:
” (inilah) suatu kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan rapi serta dijelaskan secara terperinci, yang diturunkan dari sisi (Allah) Yang Maha Bijaksana lagi Mahatahu.” (QS. Hud: 1)
Maka semua lafazh al-Qur’an baik yang tertulis maupun yang dibaca semuanya dari sisi Allah Subhanahu wa Ta'ala, dan peran Jibril 'alaihissalam tidak lain hanyalah sebagai pembawa wahyu saja kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Dan tidak pula peran Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam melainkan hanyalah memahami, menghafal dan menyampaikannya saja. Kemudian menjelaskan dan mengamalkannya. AllahSubhanahu wa Ta'ala berfirman:
” Dan sesungguhnya al-Qur'an ini benar-benar diturunkan oleh Rabb semesta alam, dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril), ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan.” (QS. Asy-Syu’araa’: 192-194)

SEJARAH PENGUMPULAN DAN PEMBUKUAN AL-QURAN

Mashaf Uthmani yang asli yang dipegang oleh Khalifah Uthman sendiri serta 2 buah kitab yang disalin darinya sebenarnya ditulis dan disalin mengikut ejaan dan sebutan Arab Quraisy yang tepat mengikut bacaan Nabi Muhammad selaku seorang yang berbangsa Arab Quraisy.Ini dapat dibuktikan dengan penulisan dan pembarisan ayat-ayat Al-Quran mashaf Uthmani itu sendiri yang diriwayatkan oleh Hafs bin Sulaiman ibn Mughairah Al-Asadi Al-Kufi menurut bacaan Asim bin Abi Najud Al-Kufi At-Taabie daripada Abi AbdilRahman Abdillah bin Habibi Sulami daripada Uthman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Zaid bin Sabith dan Ubai bin Kaab dan akhirnya daripada Muhammad bin Abdullah(Nabi SAW).





AL-QURAN yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw melalui beberapa cara iaitu:
  • Jibril memasukkan ke dalam hati Baginda dalam keadaan Baginda tidak melihat apa-apa, hanya Baginda berasa bahawa wahyu itu berada dalam hatinya.
  • Malaikat memperlihatkan dirinya sebagai seorang lelaki dengan mengucapkan ayat kepada Baginda sehingga Baginda benar-benar dapat menghafaz ayat yang diturunkan itu.
  • Wahyu datang kepadanya berserta bunyi loceng. Ini adalah cara yang paling berat dihadapi oleh Baginda sehingga keadaan baginda sangat panas walaupun ketika itu cuaca sangat sejuk.
  • Jibril memperlihatkan dirinya yang sebenar sepertimana yang dialami oleh Baginda sewaktu turunnya ayat surah al-Muzammil.


Sejarah penurunan al-Quran pula terbahagi kepada tiga peringkat iaitu:
  • Allah menurunkan al-Quran ke Luh Mahfuz secara sekali gus bukannya secara beransur-ansur. Firman Allah dalam surah al-Buruj ayat 21 - 22 yang bermaksud: “Bahkan apa yang didustakan mereka itu ialah al-Quran yang mulia, yang tersimpan dalam Luh Mahfuz.”
  • Dari Luh Mahfuz ke Baitul Izzah di langit dunia juga diturunkan sekali gus. Firman Allah SWT dalam surah ad-Dukhan ayat 3 maksudnya: “Sesungguhnya Kami telah menurunkan al-Quran di malam yang penuh keberkatan.” Firman-Nya lagi dalam surah al-Qadar ayat 1 yang bermaksud:“ Sesungguhnya Kami menurunkan al-Quran pada malam al-Qadr.” Firman-Nya lagi dalam surah al-Baqarah ayat 185 maksudnya:“Bulan Ramadan yang diturunkan padanya al-Quran.”
  • Turun dari langit dunia kepada Nabi saw melalui perantaraan Jibril bermula tanggal 17 Ramadan .
Firman Allah dalam surah as-Syura ayat 192-195 maksudnya:
“Dan sesungguhnya al-Quran itu benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam, dibawa turun oleh Ar-Ruhul Amin (Jibril) ke dalam hatimu (Muhammad saw) supaya kamu menjadi salah seorang di antara orang yang memberi peringatan dengan bahasa Arab yang jelas.”

Setiap ayat yang dibawa oleh Jibril dihafaz oleh Nabi SAW kemudian baru dibacakan kepada sahabat. Nabi saw menghafaznya betul-betul bimbang jika tertinggal perkataan tertentu atau huruf tertentu.Baginda mengulangi bacaan ketika Qiamullail(bangun malam) dan solat. Setiap tahun sekali Nabi SAW ditasmi (mendengar dan membetulkan) bacaannya oleh Jibril(Angel Gabriel) dalam bulan Ramadan secara bertadarus. Pada akhir hayat Baginda, Jibril mentasminya sebanyak dua kali.Sahabat berusaha dan bersungguh-sungguh menghafaz dan mempelajari serta memahaminya dengan menjauhi kenikmatan tidur dan rehat. Sebagaimana Rasulullah saw, sahabat turut memanfaatkan masa malam mereka untuk memantapkan hafalan mereka. Di antara huffaz(penghafaz/ penghafal Al-Quran) terkenal daripada sahabat iaitu empat orang Khulafa Ar-Rasyidin (Abu Bakar al-Siddiq, Umar al-Khattab, Uthman al-Affan dan Ali bin Abi Talib), Talhah, Ibnu Mas’ud, Huzaifah, Abu Hurairah, Ibnu Omar, Ibnu Abbas, (Ai’syah dan Hafsah){isteri Rasullullah). Termasuk daripada orang-orang Ansar(penduduk asal Kota Madinah) seperti Ubai bin Ka’ab, Muaz bin Jabal, Zaid bin Thabit, Abu Darda’ dan Anas bin Malik. Pada masa sama, Nabi SAW melantik beberapa sahabat sebagai penulis wahyu.Mereka menulisnya sebagai salah satu teori pembelajaran berkesan setiap kali wahyu turun sebagai tambahan dalam hafalan supaya tidak hilang begitu saja.

Di antara penulis itu ialah empat Khulafa’ Ar-Rasyidin, Muawiyah bin Abu Sufian, Khalid bin al-Walid, Ubai bin Kaab dan Zaid bin Thabit. Penulisan pada waktu itu hanya dibuat diatas kulit kayu,batuan,kulit haiwan dan kain-kain sahaja berikutan kertas belum diketemukan.
Pada masa itu iaitu sewaktu Rasulullah SAW masih hidup, ayat al-Quran tidak dihimpunkan dalam satu mashaf(teks lengkap yang berbuku).

Ini disebabkan kepada beberapa faktor iaitu:

  • Tidak ada faktor yang membolehkan untuk dikumpul satu mashaf daripada kemudahan penulisan, sedangkan sewaktu itu ada ramai huffaz(penghafal Al-Quran) dan qurra’(pembaca Al-Quran).
  • Ada di antara ayat yang diturunkan itu nasikh dan mansukh(hukum atau ayat yang bertukar disebabkan perkara tertentu) .
  • Ayat al-Quran tidak diturunkan sekali gus, tetapi beransur-ansur.
  • Setiap ayat yang turun adalah atas satu-satu faktor, sebab dan peristiwa.
Pada zaman Saidina Abu Bakar menjadi khalifah ramai huffaz mati dalam peperangan Yamamah iaitu hampir 70 orang. Lalu Saidina Umar mencadangkan kepada Saidina Abu Bakar supaya dihimpunkan helaian ayat-ayat Al-Quran yang ditulis berasingan sebelumnya kerana bimbang akan kehilangannya dengan sebab kematian huffaz dan qurra’.

Pada mulanya beliau ragu-ragu kerana Nabi SAW tidak pernah melakukannya dan takut seandainya berlaku perubahan ayat atau pertukaran ayat al-Quran. Selepas dibincang dengan teliti, atas alasan maslahah dan menyedari bahawa ia adalah satu wasilah yang paling agung untuk memudahkan menghafaznya serta mengelakkan daripada hilang dan luput, maka Saidina Abu Bakar bersetuju untuk dikumpulkan ayat al-Quran itu. Maka dipanggil beberapa huffaz dan penulis wahyu zaman Nabi saw yang masih hidup antaranya Zaid bin Thabit bagi meneruskan usaha penulisan al-Quran. Al-Quran kemudian ditulis oleh Zaid hasil pengumpulan daripada lembaran yang ada dan akhirnya diikat kemas, tersusun turutan ayatnya sebagaimana yang ditetapkan oleh Rasulallah SAW.

Mashaf ini diserahkan kemudiannya kepada Saidina Abu Bakar. Selepas kewafatannya, diserahkan pula kepada Saidina Umar al-Khattab. Selepas beliau wafat, mashaf itu dipindahkan ke rumah Hafsah, isteri Rasulullah SAW yang juga anak Saidina Umar sehingga ke saat pengumpulan dan penyusunan Al-Quran pada zaman Khalifah Uthman.

Apabila berlaku pertentangan dari sudut bacaan ayat Al-Quran (disebabkan kemunculan ilmu Qiraat yang telah diizinkan Nabi Muhammad sebelumnya), ia akhirnya memaksa kepada tindakan Khalifah Uthman untuk membukukan Al-Quran. Maka dibentuk satu jawatankuasa penyelaras dalam usaha membukukannya.

Pada peringkat awal,jawatan kuasa penyelaras Al-Quran itu telah membukukan sebanyak 6 buah naskah Al-Quran iaitu untuk dipegang oleh Khalifah Uthman bin Affan sendiri,naskah dihantar ke Kota Basrah,naskah kepada kota Kufah dan kota Syam serta sebuah naskah ke kota Madinah Al-Munawwarah dan sebuah lagi ke kota Makkah Al-Mukarramah. Manakala,kemudiannya diciptakan 2 buah naskah khas yang disalin terus dari naskhah Khalifah Saidina Uthman bin Affan untuk pegangan Sheikh Umar Dany dan Sheikh Abu Daud Sulaiman bin Najah.Dua salinan baharu itu hanya digunakan tatkala timbulnya perselisihan berkenaan teks salinan sebenar Kitab suci Al-Quran, serta membetuli akan keraguan dalam mashaf Al-Quran enam buah seperti yang dinyatakan diatas, akibat timbul dari perbezaan sebutan dan periwayatan imam-imam Qiraat.

Mashaf Uthmani yang asli yang dipegang oleh Khalifah Uthman sendiri serta 2 buah kitab yang disalin darinya sebenarnya ditulis dan disalin mengikut ejaan dan sebutan Arab Quraisy yang tepat mengikut bacaan Nabi Muhammad selaku seorang yang berbangsa Arab Quraisy.Ini dapat dibuktikan dengan penulisan dan pembarisan ayat-ayat Al-Quran mashaf Uthmani itu sendiri yang diriwayatkan oleh Hafs bin Sulaiman ibn Mughairah Al-Asadi Al-Kufi menurut bacaan Asim bin Abi Najud Al-Kufi At-Taabie daripada Abi AbdilRahman Abdillah bin Habibi Sulami daripada Uthman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Zaid bin Sabith dan Ubai bin Kaab dan akhirnya daripada Muhammad bin Abdullah(Nabi SAW).

Manakala cara membarisnya pula adalah diambil daripada apa yang telah diakui kesahihannya oleh para Ulama seperti yang dibandingkan dalam Kitab “At-Tarazu Ala Dhabtil Kharazi” karangan Imam At-Tanassi dengan mengambil tanda-tanda Al-Khalil bin Ahmad dan Para pengikut daripada kalangan(Masyariqah) Masyarakat Al-Quran,gantian daripada tanda-tanda yang disepakati oleh orang Andalusia(di Spanyol) dan orang-orang Maghribi.
Akhirnya terhasillah apa yang dinamakan Mashaf Uthmani hasil penggemblengan tenaga oleh Zaid bin Thabit sebagai ketua, Abdullah bin Zubair, Said bin Ash dan Abdul Rahman bin Harith bin Hisyam.

Akhirnya mashaf Uthmani itu bertebaran ke seluruh dunia yang menjadi panduan umat Islam yang paling utama hingga hari ini.

Nota: Walaupun Al-Quran yang telah distandardkan mengikut resam mashaf Uthmani sekarang,namun masih ada lagi saki baki kitab-kitab Suci Al-Quran mengikut resam yang berlainan seperti Al-Quran Muhammad(Quranul Majid),Mashaf Madinah dan lain-lain.Hal ini disebabkan Al-Quran tersebut diselaraskan dengan bacaan sesuatu pegangan imam Qiraat(Imam-imam Syatibi) yang khusus,tidak mengikut standart bacaan Arab Quraisy yang dipersetujui bersama.Namun begitu ayat-ayat Al-Quran dalam Teks resam yang lain dari mashaf Uthmani tidak mengubah akan ayat-ayat dan maksud Al-Quran itu,Cuma mungkin berlainan dari segi tanda baris akibat dari sebutan yang diriwayatkan oleh imam-imam
Qiraat yang berlainan.Namun diharapkan Al-Quran versi bukan mashaf Uthmani diminta untuk tidak dibuat bacaan ataupun hafalan bagi mengelakkan kekeliruan.

MENGAPA AL QURAN TIDAK DI KUMPULKAN DALAM SATU MUSHAF PADA ZAMAN NABI S.A.W.? Ketika Rasulullah s.a.w wafat, al Quran sedia kukuh terpelihara dalam dada dada para sahabat r.a. Namun dari sudut penulisannya, al Quran masih lagi berada dalam keadaan lembaran lembaran yang terpisah antara satu sama lain, ia belum lagi di kumpulkan dalam satu buku atau mushaf yang lengkap berserta ayat ayat dan surah surahnya yang tersusun.Oleh itu, sudah tentu keadaan ini berlaku kerana ada hikmah hikmahnya yang tersendiri memandangkan al Quran merupakan kalam yang di turunkan oleh Allah s.w.t yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Dalam masaalah ini para ulama cuba membahaskan sebab sebab mengapa al Quran tidak dikumpulkan dalam satu mushaf pada zaman Nabi s.a.w. (lihat: Manna' al Qattan: Mabahith fi "Ulum al Quran, hlm, 125) antaranya adalah: Kaedah penurunan al Quran adalah secara beransur ansur dan tidak sekali gus. Oleh itu mustahil untuk membukukannya dalam masa tersebut sebelum selesai keseluruhan penurunannya. Terdapat sebahagian ayat yang diturunkan lebih awal telah dimansuhkan apabila turunnya ayat terkemudian yang menasakhkannya. Oleh itu mustahil untuk membukukannya dalam masa tersebut kerana ini boleh menyebabkan berlakunya banyak pindaan dan pembatalan terhadap penulisan tersebut. Susunan ayat dan surah di dalam al Quran adalah tidak berdasarkan urutan waktu ia di turunkan. Sebahagian ayat ada yang diturunkan pada saat terakhir wahyu namun urutannya di tempatkan pada surah surah yang terawal. Oleh itu, mustahil untuk membukukannya dalam tempoh penurunannya kerana ini juga boleh menyebabkan berlakunya banyak pindaan dan perubahan pada susunan penulisannya. Tempoh turunnya wahyu terakhir (iaitu ayat 281 dari surah al Baqarah mengikut pendapat Ibnu 'Abbas) dengan kewafatan Rasulullah s.a.w. adalah terlalu singkat. Ibnu Jarir meriwayatkan dalam tafsir al Tabari bahawa Nabi s.a.w. wafat sembilan malam selepas turununya ayat ini. Baginda jatuh gering pada hari Sabtu dan wafat pada hari Isnin . Oleh itu dalam masa yang sesingkat ini tidak memungkinkan ia untuk di susun lalu dibukukan dengan segera. Ketiadaan faktor faktor yang mendorong untuk mengumpulkan al Quran menjadi satu mushaf sebagaimana yang berlaku pada zaman Abu Bakar al Siddiq r.a. Ini kerana ketika Rasulullah s.a.w. kedapatan ramai sahabat yang menghafal al Quran sebaik sahaja ia diturunkan sehingga tidak wujud sebarang kepentingan yang mendesak kepada penulisannya. Ini berbeza selepas kewafatan Rasulullah s.a.w kerana kemunculan banyak fitnah seumpama peperangan yang menyebabkan ramai penghafal al Quran yang gugur syahid sehingga mendorong Abu Bakar r.a. melaksanakan rancangan pengumpulan al Quran dalam satu mushaf kerana khuatir ia akan lenyap dengan ketiadaan para penghafalnya. Kesimpulannya , kalau sekiranya al Quran itu dibukukan dalam satu mushaf pada zaman Nabi s.a.w. iaitu ketika wahyu masih dalam tempoh penurunannya, sudah tentu al Quran akan mengalami banyak perubahan dan pindaan yang selaras dengan terjadinya nasakh serta penyusunan ayat yang belum selesai di samping kelengkapan menulis yang sangat terbatas. Situasi begini tidak memungkinkan untuk berpegang kepada satu satu mushaf yang terdahulu kerana ia masih tidak lengkap dan berkemungkinan menerima perubahan. Oleh itu setelah segala galanya stabil iaitu dengan berakhirnya penurunan serta wafatnya Rasulullah s.a.w. maka tiada lagi perkara yang di khuatiri akan menjejaskan pembukuannya. Inilah yang di ilhamkan oleh Allah s.w.t. kepada Khulafa' al Rashidin yang mendapat hidayah langsung daripadaNya sehingga timbulnya idea untuk membukukan la Quran dalam satu mushaf bermula dengan pengumpulan oleh Sayidina Abu Bakar al Siddiq r.a.